Logo KPPOD

BRIDA KOMPAK, Semangat Wujudkan Ekosistem Riset dan Inovasi di Daerah

brin.go.id - 25 November 2022

BRIDA KOMPAK, Semangat Wujudkan Ekosistem Riset dan Inovasi di Daerah

Tantangan dunia itu selalu berubah, jadi ada target perubahan yang selalu dinamis, sehingga memerlukan banyak penyesuaian. Target perubahan pembangunan, dapat terjadi akibat pergantian kepala daerah, target pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang, dan extraordinary cause berupa pandemi Covid-19. Hal tersebut disampaikan oleh Sri Nuryanti Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada webinar The Indonesian Science Technology Innovation (STI) 2022 Policy Lecture melalui link Zoom dan You Toube Livestream, Kamis (17/11).

Sri memaparkan, dengan adanya target pembangunan yang terus berubah, kita membutuhkan upaya ekstra untuk mencapainya. Diperlukan sebuah terobosan, untuk membangun kolaborasi antar aktor. “Dalam rumusan yang sedang kita godok, ada konsep untuk Forum Komunikasi Riset dan Inovasi Daerah (FKRID). Akan tercipta mutual develop antara Kepala Daerah dengan pemangku kepentingan di daerah, untuk merumuskan hal-hal yang mendesak, seperti kebijakan berbasis bukti,” ungkapnya.

Dari daerah juga, Sri menambahkan, tidak menutup kemungkinan munculnya kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Di daerah sangat memerlukan kolaborasi, untuk memunculkan critical mass. Kalau sudah ada critical mass, tentunya kesejahteraan di daerah lebih meningkat.

Kelitbangan pada pemerintah daerah seringkali diasosiasikan sebagai tempat buangan, karena litbang sering dianggap sebagai sulit berkembang. Masih banyak yang belum berfungsi, sebagai penghasil rekomendasi kebijakan bagi kepala daerah dengan baik. “Terkait hal tersebut, dengan adanya Peraturan Presiden No. 78/2021 tentang BRIN, mengamanatkan pembentukan BRIDA. Dengan adanya BRIDA, diharapkan mampu menjadi pusat yang mampu menghasilkan rekomendasi, pembuat kebijakan berbasis bukti atau ilmu pengetahuan,” ucapnya.

Penguatan BRIDA, katanya, dilakukan dengan tagline BRIDA KOMPAK yaitu Kolaboratif, Optimis, Mandiri, Proaktif, Agile, Kompetitif. “BRIDA, intinya untuk membantu mewujudkan kesejahteraan masyarakat, perbaikan pelayanan publik dan peningkatan daya saing daerah. Kita melakukan pelaksanaan bimbingan dan pengawasan teknis melalui konsultasi, diklat, litbang, dan bimbingan teknis. Hal-hal tersebut akan berhasil apabila ada kolaborasi multipihak untuk penguatan ekosistem riset dan inovasi,” bebernya.

Budiati Prasetiamartati, selaku Policy Engagement Specialist, Australia-Indonesia Centre (AIC) dibentuk 2013 oleh Indonesia dan Ustralia, untuk memajukan hubungan antara masyarakat dalam riset, sains, inovasi dan budaya.“AIC mengelola konsorsium riset 11 universitas terkemuka dari Australia dan Indonesia. STI ini merupakan kolaborasi enam Lembaga yaitu BRIN, Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), Artikel 33 Indonesia, Centre for Innovation, Policy and Governance (CIPG), Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) dan The Smeru Research Instutite.

STI terdiri dari 6 seri diskusi, dengan tema iptekin yang inklusif dan berkelanjutan. Dari kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi wadah pertukaran wawasan bagi akademisi, pemerintah, industri maupun masyarakat  dalam mendorong iptek dan inovasi inklusif, untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Diharapkan juga menjadi upaya dalam menciptakan masyarakat Indonesia menjadi  inovatif, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dudi Hidayat Plt. Direktur Perumusan Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi BRIN menegaskan, STI bertujuan untuk menyebarluaskan konsepsi STI. Diharapkan semakin banyak pihak-pihak yang bisa memahami, dan bisa berkiprah untuk pengembangan STI. “BRIN sudah berkomitmen, untuk membangun sebuah sistem inovasi yang inklusif dan sustainable. Salah satu bentuk inklusifness dari kebijakan inovasi di BRIN, dengan melibatkan sebanyak mungkin pihak termasuk daerah, dan agar dibentuk FKRID,” tuturnya.

Dudi menjelaskan, kita sebagai sebuah bangsa yang besar tediri dari berbagai macam elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat pada umumnya. Sudah waktunya untuk bekerjasama, berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik, di dalam memajukan riset dan inovasi di Indonesia.”Tantangan ke depan, apalagi kita memiliki Visi 2045 untuk membawa negara kita ini menjadi negara maju, dan cita-cita pada 2042 keluar dari perangkap negara berpenghasilan menengah. Menurut BAPPENAS, kita harus mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun sebanyak 6% dari sekarang sampai dengan 2042,” lanjutnya.

Hal ini tentu memunculkan tantangan, katanya, karena pengalaman kita selama beberapa tahun terakhir, perkembangan pertumbuhan ekonomi kita itu di antara 5,2% – 5,3%.”Tidak ada cara lain untuk mencetak pertumbuhan sebesar itu, dan mempertahankannya dalam jangka waktu yang cukup lama, kecuali dengan riset dan inovasi. Dengan memberikan nilai tambah pada setiap kegiatan ekonomi yang produktif, melalui  sentuhan riset dan inovasi,” pungkas Dudi. 

Sumber: https://brin.go.id/news/110877/brida-kompak-semangat-wujudkan-ekosistem-riset-dan-inovasi-di-daerah


Dibaca 24 kali