Logo KPPOD

Stafsus Milenial Presiden: Jangan Generalisasikan Papua

beritasatu.com - 20 Mei 2021

Stafsus Milenial Presiden: Jangan Generalisasikan Papua

Staf Khusus Milenial Presiden Billy Mambrasar meminta semua pihak jangan menggeneralisasikan Papua. Meski ada suatu kejadian gangguan keamanan di satu titik wilayah, bukan berarti semua wilayah di Papua menjadi tidak aman. Generalisasi tersebut merugikan generasi muda Papua yang ingin berkembang dan menjadi sama dengan pemuda Indonesia lainnya.

“Kata kuncinya adalah generalisasi. Betul Sekali. Kita tidak bisa menggeneralisasikan bahwa wilayah yang terjadi gangguan keamanan, kemudian disamakan bahwa semua Papua seperti itu. Karena ada wilayah-wilayah Papua yang progresif dan ingin membangun,” kata Billy Mambrasar dalam dalam acara Otonomi Talk yang digelar Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) secara virtual, Rabu (19/5/2021).

Terbukti ketika ia dan timnya membuka pendaftaran program Petani Milenial di Provinsi Papua Barat. Dalam waktu beberapa hari saja, peminatnya sudah mencapai 1.200 pemuda asli Papua mendaftar program ini.

“Jadi ini menunjukkan bahwa semangatnya tinggi. Karena itu ketika terjadi permasalahan di suatu titik, lalu terjadi generalisasi, padahal adik-adik yang ada di wilayah lain sudah siap mengembangkan bisnis atau wirausaha, mereka kemudian kena getahnya,” ujar Billy Mambrasar.

Misalnya, lanjut Billy, investor yang sudah siap masuk ke Papua atau Papua Barat menjadi mundur, karena membayangkan tidak aman karena adanya generalisasi tersebut. Kondisi ini sangat merugikan masyarakat di Papua.

Namun, Billy mengakui tak dapat dipungkiri masalah gangguan keamanan seperti adanya kelompok kriminal bersenjata (KKB) tersebut pasti akan mempengaruhi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan di Papua. Karena itu dibutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Lebih lanjut Billy mengungkapkan, pihaknya telah melakukan survei terkait otonomi khusus (otsus) perspektif milenial yang lahir antara tahun 1990 hingga 2000 yang telah merasakan dampak otsus dalam program pendidikan dan penyediaan lapangan kerja. Survei dilakukan terhadap 550 sampel dengan studi kuantitatif dan kualitatif.

Dalam survei tersebut ditanyakan apakah otsus yang sudah berjalan gagal atau berhasil. Jawabannya, 25% menyatakan otsus gagal dan 51% menyatakan otsus belum tepat sasaran.

“Yang belum tepat sasaran, kita tanya lagi menurut anda apakah dana otsus sudah cukup atau harus ditambah? Jawaban mereka, sudah cukup hanya perlu diperbaiki. Jadi ketika pelaksanaan otsus diidentikkan dengan anggaran, maka kita tidak bicara dalam Bahasa yang sama,” terang Billy Mambrasar.

Artinya, sambung Billy, semua pihak harus kembali dalam mazhab otsus yaitu memanusiakan manusia atau orang asli Papua dengan melakukan pemberdayaan menyeluruh.

“Apa itu pemberdayaan menyeluruh? Menurut hemat anak-anak yang kita survei, adalah membangun dari, oleh dan untuk orang-orang Papua juga seluruh Indonesia. Artinya ada keinginan played in the same field. Berperan sama dengan anak-anak muda Indonesia di daerah lainnya,” ungkap Billy Mambrasar.

Sumber: https://www.beritasatu.com/amp/nasional/775951/stafsus-milenial-presiden-jangan-generalisasikan-papua


Dibaca 485 kali