Birokrasi Riset Tak Relevan
KOMPAS - Selasa, 13 Februari 2018 - 13 Februari 2018
Izin yang diurus dari Kemdagri hingga tingkat pemerintah daerah nyatanya tidak juga menjamin kelancaran proses riset. Pencarian data dan narasumber sering terkendala.
Di tengah tuntutan lahirnya kebijakan yang berbasis riset, dunia penelitian terhadang paradigma birokratis. Pengurusan izin larut dalam prosedural, tetapi kemudian tidak menopang substansi dari penelitian itu sendiri.
Munculnya polemik seputar Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penerbitan Surat Keterangan Penelitian patut menjadi koreksi terhadap birokrasi riset di negeri ini.
Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Robert Endi Jaweng di Jakarta, Senin (12/2), mengatakan, permendagri yang merupakan pembaruan dari Permendagri Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pedoman Penerbitan Rekomendasi Penelitian itu memang akhirnya dibatalkan setelah menuai polemik.
Namun, secara esensial, regulasi penelitian cenderung prosedural, tetapi tak berpijak pada substansi dan realitas. Pengurusan izin penelitian tak memastikan adanya jaminan perlindungan hukum dan keamanan bagi peneliti serta terhambatnya akses data dan narasumber. “Sudah rumit, hasil penelitian pun tidak dijamin akan digunakan untuk menghasilkan kebijakan publik yang berbasis riset,” katanya.
Ia mengatakan, birokrasi penelitian sudah menjadi masalah klasik, jauh sebelum adanya Permendagri No 3/2018 yang pekan lalu sudah dicabut Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Namun, ketika peraturannya kembali ke yang lama, iklim birokrasi penelitian pun tidak lebih baik dan substantif. “Kami mendesak agar kewajiban untuk mengurus rekomendasi/izin penelitian dihapus saja,” katanya.
Ia mencontohkan, bagaimana China dan Malaysia yang tidak kental birokratis bagi penelitian di dalam negeri, ekosistem penelitiannya tumbuh pesat.
Menurut Robert, aturan soal izin penelitian sudah ada sejak 1972. Pendekatannya lebih pada keamanan, dengan adanya pengendalian agar hasil riset jangan sampai mengancam kesatuan dan keamanan negara.
Robert mengatakan, dibatalkannya permendagri terbaru soal izin penelitian menunjukkan lemahnya kesadaran akan kebijakan publik berbasis riset di negeri ini. Permendagri mengatur obyek peneliti maupun lembaga penelitian. Namun, penyusunan peraturan itu tidak melibatkan peneliti.
“Adanya izin yang diurus mulai dari Kemdagri hingga tingkat pemerintah daerah, nyatanya tidak mendukung kelancaran proses riset. Seharusnya, urusan riset ini murni dipandang urusan akademik untuk mendukung produksi ilmu pengetahuan. Semestinya diserahkan saja ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi,” kata Robert.
KPPOD melaksanakan studi kasus bertajuk “Birokrasi Izin Penelitian di Indonesia” di dua provinsi, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta (Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta) serta Jawa Timur (Kabupaten Malang dan Kota Surabaya).
Dari lapangan ditemukan bahwa soal ketentuan izin ini, ada peneliti atau lembaga riset yang mengetahui dan patuh mengurus izin, ada yang tidak peduli, ada yang awalnya tidak tahu, tetapi akhirnya mengurus izin.
“Pengurusan izin ini berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari instansi yang berwenang, waktu pengurusan yang tidak pasti, hingga masa berlaku yang berbeda. Hal-hal administratif seperti ini menghambat tumbuh kembangnya ekosistem penelitian yang sehat di Indonesia.
“Padahal, negara yang maju di era sekarang harus kuat dalam riset dan inovasi,” ujar peneliti KPPOD, Boedi Rheza.

Tak realistis
Menurut Boedi, dari kajian terungkap tidak adanya dampak signifikan bagi kemajuan riset dari adanya keharusan izin dari Kemdagri hingga pemerintah daerah. Peneliti juga tidak mendapatkan adanya jaminan keamanan dan perlindungan hukum serta terhambatnya akses data dan narasumber. “Pencarian data dan narasumber sering kali terhambat karena harus izin ada ini dan itu. Jika penelitian sampai tingkat lurah, izin bisa sampai hampir sebulan. Padahal, sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik yang menjamin informasi yang dapat diakses publik mudah didapatkan,” kata Boedi.
Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia Asep Saefudin mengatakan, riset jangan terlalu banyak diatur. “Peneliti tak perlu dicurigai atau dianggap sedang melakukan kegiatan mata-mata. Ilmu pengetahuan dan teknologi hasil inovasi dan riset itu berkembang bila birokrasinya tidak ribet,” katanya. (ELN)
--- (Sumber KOMPAS – Selasa, 13 Februari 2018) ---
Dibaca 1297 kali
