Pemerintah Fokus pada Pembangunan Sosial
KOMPAS – Kamis, 13 Juli 2017 - 24 Juli 2017
Pengelolaan perbatasan negara tahun ini akan difokuskan pada penyiapan sarana dan prasarana pembangunan sosial dan ekonomi. Selain menuntaskan persiapan penguatan pertahanan di perbatasan, pemerintah juga memprioritaskan pembangunan sekolah dasar, pusat kesehatan masyarakat, dan pasar.
Pemerintah juga fokus mengisi tenaga pendidik dan kesehatan agar fasilitas sosial di perbatasan berjalan optimal. Sejauh ini, di kawasan perbatasan sudah didirikan kompleks perkantoran Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Entikong, Badau, dan Aruk di Kalimantan Barat; PLBN Wini, Motaain, dan Motamasin (Nusa Tenggara Timur); serta PLBN Skouw (Papua) yang megah.
Pemerintah telah membangun jalan paralel perbatasan sepanjang 1.425,6 kilometer (km) di Kalimantan Barat, 49,5 km di Nusa Tenggara Timur, 8,5 km di Kalimantan Utara, dan 301,74 km di Papua.
Pengelolaan perbatasan, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, tak bisa hanya dari aspek fisik, tetapi juga sosial. Hubungan antarmasyarakat di perbatasan pun tetap terjaga.
“Bukan hanya fisik yang kita perbaiki, tetapi bagaimana mengelolanya (aspek sosial ekonomi) dengan baik. Walau kita tahu aspek pertahanan juga penting,” ujar Wapres Kalla saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Pengelolaan Perbatasan Negara Indonesia 2017, Rabu (12/7), di Jakarta. Turut hadir dalam rapat itu antara lain Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto; Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Tjahjo Kumolo; serta Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.
Tjahjo menyebutkan, tahun 2018 disiapkan pembangunan infrastruktur sosial di 187 kecamatan perbatasan, mulai dari pasar tradisional, sekolah dasar, peningkatan kesejahteraan, sampai pertahanan. Alokasi anggaran pun meningkat dari Rp 13 triliun pada tahun 2016 menjadi Rp 19,56 triliun tahun ini.
Dana pengelolaan perbatasan tersebut tersebar di 29 kementerian/lembaga, bertambah dari 27 kementerian/lembaga tahun 2016.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Robert Endi Jaweng mengatakan, pembangunan perbatasan harus dilaksanakan secara komprehensif. Selama ini, kata Endi, umumnya kementerian/lembaga memiliki program sendiri-sendiri secara sporadis sehingga dana tak terserap maksimal dan bisa saja tumpang tindih.
Kesejahteraan
Keberadaan BNPP yang hanya bersifat koordinasi pun mungkin tak cukup untuk memaksa semua kementerian/lembaga yang memiliki anggaran dan program untuk perbatasan mengintegrasikan perencanaan, penganggaran, dan realisasi pembangunan.
Di sisi lain, pembangunan PLBN dinilai terlalu menonjolkan pendekatan keamanan. “Basis pertahanan yang paling penting adalah kesejahteraan. Warga sejahtera adalah basis paling otentik untuk basis pertahanan kita,” ujar Endi. (INA)
--- o0o ---
Dibaca 3183 kali
