Pemilu 2014, Partai Politik Miskin Gagasan
- 1 Januari 1970
Partai politik cenderung menjual figur dan ketokohan serta wacara elitis ketimbang program kerja dan ideologi dakan pembangunan infrastruktur. Berdasarkan hasil penelitian Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), partai politik masih menganggap infrastruktur seperti desentralisasi bukanlah jualan yang dibutuhkan publik dalam kampanye.
“Sehingga masa kampanye tidak diisi hal-hal yang substansial yang dibutuhkan publik," kata Robert Endi Jaweng, Direktur Eksekutif KPPOD saat memaparkan hasil penelitiannya di Grand Cemara Hotel, Menteng, Jakarta pusat, Jumat 4 April 2014.
KPPOD meneliti seluruh pemberitaan media massa mengenai gagasan atau program partai yang berfokus pada pembangunan infrastruktur selama masa kampanye Maret 2014. Dari ribuan berita yang membahas kampanye, lembaga swadaya masyarakat itu hanya menemukan 34 berita berisi program pembangunan infrastruktur, khususnya otonomi daerah. Dari jumlah itu, tak satupun partai yang mendekati angka 50 persen membahas arah kebijakan partai tersebut.
"Hanya Hanura yang bisa menembus angka 26 persen, itu pun kebanyakan ditulis di Koran Sindo," kata Muhammad Iqbal Damanik, peneliti KPPOD. Koran Sindo merupakan media milik Hari Tanoe, nama yang hendak dijadikan calon wakil presiden oleh Partai Hanura.
Robert menyoroti fenomena bahwa partai politik telah membohongi publik dengan saling mengklaim memperjuangkan proyek-proyek yang sudah disahkan di Dewan Perwakilan Rakyat. Ia mencontohkan banyak pemberitaan saling klaim antara Prabowo Subianto, calon presiden Gerakan Indonesia Raya dan Aburizal Bakrie, calon presiden Golkar tentang dana desa. "Ini namanya pembodohan publik," kata dia.
Belum lagi, kata dia, tokoh partai politik lebih senang saling sindir di hadapan publik. Perhatian publik justru terjerembab pada kekisruhan politik yang tak bermanfaat bagi mereka, daripada menilai program partai. "Ini adalah bentuk pragmatisme parpol yang sudah sangat mengkhawatirkan," kata dia.
Robert menilai arah kebijakan partai yang cenderung pragmatis sangat mengkhawatirkan bagi kemajuan Indonesia ke depan. Sebab mereka sangat berperan dalam membangun serta menyukseskan infrastruktur, khususnya daerah otonomi yang telah disahkan pemerintah dan DPR. Partai tanpa gagasan dan tanpa kualitas bisa memperbesar politik transaksional. (TS)
--- (Sumber: http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/04/04/269567953/Pemilu-2014i-Partai-Politik-Miskin-Gagasan) ---
Dibaca 454 kali
