Papua bersinar; Bali, Jakarta, dan Banten babak belur

lokadata.id

Papua bersinar; Bali, Jakarta, dan Banten babak belur

Perekonomian kita merosot, semua orang sudah tahu, tapi apakah semua daerah di Indonesia ikut anjlok?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, di tengah perekonomian yang menyusut, ternyata ada dua wilayah yang justru tumbuh positif.

Data yang sama juga mengungkap, sejumlah daerah jatuh lebih dalam ketimbang wilayah lain. Cilakanya, daerah yang babak belur itu merupakan sentra ekonomi sehingga menyeret Indonesia ke dalam jurang kontraksi yang cukup dalam.

Dua provinsi yang tetap tumbuh selama kuartal II/2020 adalah Papua dan Papua Barat, sedangkan wilayah yang melempem meliputi Bali, DKI Jakarta dan Banten.

Mengapa dua provinsi di ujung timur itu tetap tumbuh sedangkan wilayah lain di bagian barat anjlok begitu dalam? Mari kita lihat datanya lebih rinci.

Sektor primer bertahan, tersier terpukul
Selama kuartal II/2020, Provinsi Papua tumbuh 4,52 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2019. BPS Papua memaparkan, pertumbuhan ini terutama disokong sektor primer, yaitu pertambangan dan penggalian yang melonjak dalam persentase luar biasa: 29,92 persen.

Selain itu, ada pula sedikit kontribusi dari sektor tersier, yaitu informasi dan komunikasi (5,35 persen), jasa kesehatan (5,17 persen) dan sektor sekunder yakni konstruksi yang tumbuh 3,84 persen.

Dalam periode yang sama, meski tipis, perekonomian Papua Barat juga tumbuh: 0,53 persen. Berdasarkan data BPS Papua Barat, pertumbuhan ini ditopang oleh sektor jasa kesehatan (tumbuh 10,52 persen), informasi dan komunikasi (9,82 persen), serta pengadaan listrik dan gas (7,47 persen).

Menurut Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonom Daerah (KPPOD), Robert Endi Jaweng, di masa pandemi, wilayah yang mengandalkan sektor primer relatif memiliki pertumbuhan yang stabil.

“Sektor primer bisa diandalkan. Memang agak kontroversial karena ada pengerukan sumber daya alam,” katanya kepada Lokadata.id, Senin (31/8/2020). “Terlepas dari sikap politik atau posisi moral pembangunan, faktanya sektor ini menyumbang pembentukan kekayaan nasional atau daerah.”

Peneliti Institute for Developments of Economics and Finance Rizal Taufikurahman menyebut hal senada. “Sektor primer justru jadi penopang, terutama di provinsi yang punya sumber daya seperti pertambangan dan pertanian,"katanya kepada Lokadata.id.

Data yang sama menunjukkan, Bali, DKI Jakarta, dan Banten mengalami kontraksi paling dalam. Bali anjlok paling tajam, menjadi satu-satunya wilayah yang minus double digit: 10,98 persen.

BPS Bali mencatat penurunan tersebut disumbangkan oleh sektor transportasi dan pergudangan yang minus 39,48 persen, akomodasi, makanan & minuman (minus 33,10 persen), serta pengadaan listrik dan gas (minus 21,04 persen).

BPS Bali juga mencatat sejumlah sektor usaha yang tetap tumbuh, seperti informasi dan komunikasi (tumbuh 6,24 persen), jasa kesehatan (2,88 persen) dan real estate (1,83 persen).

Penyusutan terbesar kedua dialami DKI Jakarta yang turun 8,22 persen. Menurut paparan BPS DKI Jakarta, kontraksi itu disebabkan penyusutan pada sektor akomodasi, makanan & minuman yang turun 34,81 persen, transportasi dan pergudangan (minus 23,45 persen) dan industri pengolahan (minus 20,51 persen).

Posisi selanjutnya diduduki Banten yang turun 7,40 persen, dengan kontribusi dari sektor transportasi dan pergudangan (minus 47 persen), pengadaan listrik dan gas (minus 18,45 persen) dan akomodasi, makanan & minuman (minus 11,76 persen).

Pemulihan tergantung pengendalian virus
Menurut Robert Jaweng, pandemi terutama memberi dampak negatif kepada pelaku usaha di sektor tersier seperti jasa, pariwisata, dan perdagangan. Selain itu, pandemi juga memukul sektor sekunder seperti industri dan pengolahan.

Menurut Robert, pemulihan di kedua sektor itu sangat bergantung pada peningkatan konsumsi atau daya beli masyarakat. “Kehidupan perusahaan bukan karena insentif pemerintah, itu hanya sedikit kontribusinya," katanya, "yang besar dari konsumsi masyarakat, dan semua itu terhenti karena pandemi."

Meski begitu, lanjut Robert, pemulihan ekonomi sangat sulit dilakukan jika pandemi virus korona belum teratasi. “Selesainya pandemi merupakan prasyarat mutlak bagi pemulihan ekonomi. Itu patokannya," katanya.

Untunglah, kontraksi ini telah direspons oleh sejumlah pemerintah daerah. Gubernur Bali Wayan Koster misalnya, menyiapkan pemulihan ekonomi Bali dari sektor pariwisata.

“Kami berharap pemulihan ekonomi Bali bisa dimulai dengan aktivitas bagi wisatawan nusantara, dan berharap, jika situasinya memungkinkan dengan wisatawan asing,” kata Koster.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut perekonomian Jakarta akan pulih dengan cepat jika pandemi dapat dikendalikan. “Kita sama-sama berjuang bereskan penyebabnya supaya dampaknya bisa dikendalikan. Jangan salah fokus. Bereskan dulu akarnya dengan serius hingga tuntas,” katanya, Rabu (5/8).

Sementara, Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, menyatakan, Banten tengah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah agar perekonomian bisa tumbuh tahun depan. “Kami akan susul poin demi poin supaya pada 2021 pertumbuhan meningkat,” kata Andika, Kamis (27/8).

Sumber:https://lokadata.id/artikel/papua-bersinar-bali-jakarta-dan-banten-babak-belur


Dibaca 38 kali